Showing posts with label uang. Show all posts
Showing posts with label uang. Show all posts

mengeluarkan = memberi, masuknya nanti.


Banyak yang nggak menyadari, bahwa kesemuanya diawali dengan “mengeluarkan”. Saat bayi lahir, ia mengeluarkan udara di paru2nya dan mulai bernafas. Saat sedang ingin menguasai sesuatu, seseorang akan mengerahkan (baca: mengeluarkan) perhatian terbaiknya supaya bisa menyerap sesuatu tersebut. Bahkan, untuk bisa melakukan sholat dengan  khusyu’ pun pada dasarnya seseorang harus bisa “mengeluarkan” niat terbaiknya.

Sepertinya, memang nggak ada yang bisa dihasilkan dari sebuah “kekosongan”. Ruang kosong hanya menghasilkan kesunyian, dibandingkan sebuah ruang studio yang berisi banyak hal, jelas ruang berisi bisa lebih banyak menghasilkan sesuatu.. Filosofi peribahasa “Tong kosong nyaring bunyinya” pun sejatinya mensimbolkan “minus”nya manusia tanpa isi.

Dan banyak juga dari kita tidak menyadari, kalo aktivitas “mengeluarkan” selalu akan diikuti oleh aktivitas masuk. Banyak referensi menyebutkan ini merupakan hukum dari alam semesta. Apabila seseorang mengeluarkan sesuatu, maka suatu saat akan ada sesuatu yang masuk. Oleh sebab itu juga, banyak yang meyakini, kalo “mengeluarkan” sedekah nggak akan bikin seseorang miskin.

Mengeluarkan bisa berwujud dalam aktivitas memberikan. Jadi, mungkin dalam keadaan apapun kondisi seseorang, upayakan untuk tetap bisa memberi. Pernah denger di sebuah pengajian, sebenernya ada “mindset” yang kurang tepat soal sedekah. Yang banyak orang pahami, orang miskin nggak mesti sedekah.. Padahal anjuran sedekah itu untuk semua orang, baik itu orang miskin ataupun orang mampu.

Bahkan si ustad di pengajian itu juga bilang: untuk orang miskin, kalo mau merubah nasib, ya bisa lewat jalan sedekah. Ada dasar ayatnya juga sih: QS. Ath-Thalaq (65) ayat 7 “ .Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

Menurut Makoto Shichida (2014) dalam bukunya Whole Brain Power; tindakan memberi tanpa pamrih adalah tindakan memberi yang paling tinggi nilainya. Dan semakin banyak seseorang memberi, semakin banyak sebenarnya seseorang mengasah diri dalam berbagai hal.
Sedekah sebetulnya juga “mengasah diri” dalam menundukkan ego seseorang. Kalau mau contoh yang lebih jelas lagi soal memberi = mengasah diri, lihatlah para blogger yang sudah sukses. Apakah dulunya baca blog mereka harus bayar ??. Tapi lihatlah gimana menjadi terasahnya skill bertutur dan menulis mereka akibat selalu memberi tulisan yang “bergizi”, dan akhirnya menjadi sukses ??. Mau contoh yang lebih oke ?? Silahkan baca kisah sukses Jack Ma dengan Ali Babanya.

Makoto Shichida juga menyatakan: “Memberi tanpa pamrih adalah perilaku terbaik di dunia, dan merupakan wujud dari rasa kasih seseorang yang kemudian bisa menimbulkan inspirasi. Kasih dan inspirasi merupakan dua hal yang terpenting untuk perkembangan diri Anda.”

Uang, Uang, Uang


gw gak takut gak mempunyai sedikit uang, apalagi punya banyak uang. gw gak khawatir memiliku harta yang berlimpah apalagi mempunyai harta yang sedikit pun. Namun yang gw takutin yaitu bagaimana gw memandang itu semua. Bagaimana gw memandang uang dan bagaimana gw memamdang harta.

gak sedikit orang yang kehilangan akal sehat ketika dihadapkan pada hal tersebut. Pertumpahan darah, perselisihan, putusnya tali silaturahmi hingga tindakan kriminal. Bagaimana hal itu bisa terjadi, tentu karena cara pandang mereka tentang harta dan uang.

Apakah seperti itu logika berfikir mereka, yang banyak selalu menyenangkan. Dan bukankah keserakahan bersumber dari ketidakcukupan yang merupakan analogi dari merasa "sedikit". Lantas apa yang kita mau?

Bila semua yang kita punya hanya titipan, kenapa kita masih sedih jika titipan itu diambil oleh pemilikNya. Kenapa kita merasa risau jika apa yang kita inginkan belum dititipkan oleh Nya. Mungkinkah semua itu karena kita belum bisa mensyukuri apa yang kita punya.

Hakikat dari memiliki adalah rela melepaskan. Kerelaan butuh kesabaran karena pada dasarnya kita mempunyai potensi kikir, tidak mau memberikan apa yang kita punya. Ketika kita sabar meminimalisisr potensi buruk ini, maka akan mencapai tingkat dermawan. Dimana dalam tingkat ini orang memandang harta dan uang yang mereka punya adalah apa yang mereka berikan kepada orang lain dijalan kebaikan, bukan aa yang mereka punya.



Biarpun Murah, Hal-hal ini Tetap Terasa Mewah



Katanya, uang itu nggak bisa membeli kebahagiaan. Tapi pada prakteknya, orang yang punya uang hidupnya terlihat jauh lebih menyenangkan dibanding orang yang mau makan doang, kudu jual ginjal. Toh memang benar kan, orang lebih banyak memilih untuk hidup mewah dibanding hidup susah. Tapi sayang, hidup mewah nggak ada yang murah.

Eits! Tunggu dulu! Hidup nggak seklise itu kok. Kalo dilihat secara lebih mendalam, ternyata ada banyak hal dalam hidup kita yang terasa mewah meskipun itu murah maupun gratis malah!

Keluarga

Kalo kamu pernah mikir bahwa hidup tanpa orang tua itu menyenangkan, mungkin kamu adalah remaja dengan jiwa cabe-cabean yang sering dilarang orang tuamu main bareng om-om dan pulang subuh.

Pernah kebayang nggak, misal lebaran kamu ngerayain sendiri, pulang sekolah nggak ada yang nyiapin makan, terus nonton TV di ruang keluarga sendiri? Nyesek nggak? Setelah membayangkan keadaan rumah tanpa keluarga, kamu masih berharapkah bahwa kamu nggak punya orang tua?

Maukah kamu dibayar uang 1 milyar, tapi orang tuamu akan direnggut dari hidupmu? 

Baksos FDM STMIK AMIK BDG


Coba bayangin dulu, gimana kehidupan anak yatim-piatu. Gimana mereka ngerayain hari raya. Gimana perasaan mereka saat pulang sekolah dapet nilai bagus, tapi nggak bisa pamer ke orang tua. Bayangin gimana hancurnya hati mereka saat mereka menyadari bahwa semua terasa hambar tanpa orang tua dalam proses pertumbuhannya.

Uang berapapun nggak akan bisa membeli mereka. Itulah kenapa, keluarga adalah hal mewah yang nggak bisa dibeli, tapi kita dapatkan secara gratis!

Sahabat
Taman Hutan Dago, Gw, Anggoro, Dhani, Yuyunx, and Ratna

Gw percaya, sahabat adalah keluarga tanpa hubungan darah dan tak tinggal serumah. Kenapa gw sebut mereka keluarga? Karena mereka bisa selalu menemani, menjaga dan membantu kita secara tulus layaknya keluarga.

Pantai Indramayu, gw, sama boyband

Sahabat itu nggak bisa dibeli. Beda dengan teman. Teman bisa dibeli. Rajin-rajin aja hamburin duit, rutin nraktir-nraktir, ngajak karaoke, makan di resto, atau nyembelih sapi setiap hari, dijamin kamu bakal punya banyak teman. Tapi di saat kamu nggak punya duit lagi, bisa dipastikan orang-orang itu juga akan menghilang. Karena serunya kamu juga habis tanpa bantuan uang.

Sahabat adalah pemberantas kesepian. Tanpa mereka, hidup berasa sangat menyiksa. Kita akan merasa sendiri, menahan beban dalam hati, nggak ada teman untuk berbagi. Bayangkan, kalo kita bermasalah lalu ketemu psikiater, biayanya bisa ratusan ribu atau bahkan jutaan. Sedangkan sama sahabat? Gratis. Sahabat adalah salah satu kemewahan hidup yang diberikan oleh Tuhan secara gratis kepada manusia yang mampu menjaga kepercayaan satu sama lainnya.

Kesehatan
Orang bilang, sehat itu mahal. Faktanya, nggak gitu kok. Menjaga kesehatan itu murah. Makanan sehat seperti sayur, buah maupun air putih jelas lebih murah dibanding junkfood maupun air soda yang sering kamu beli. Menjaga kesehatan sih murah, memulihkan tubuh pas sudah terlanjur sakit itu yang mahal.

Coba kita cek betapa berharganya satu aja hal yang menjaga kita agar tetap hidup ini:



Tuh.. Sehat itu hal yang sangat berharga, namun gratis. Yang nggak gratis itu sakit. Orang-orang yang sudah terlanjur sakit, biasanya rela ngabisin duit berapapun juga demi kesembuhan. Itulah bukti bahwa kesehatan itu adalah benda mewah yang sebenarnya murah. Dan sayangnya baru terasa berharga saat sudah terlanjur sakit.

Jajanan SD

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg60HBLUtkPV15kudEMeVDOxq-bOc5T0P8Lp5EeL4PmPnsQIGN0CziNckyOCSPeQDkrjyc69pDIzE8jsy8uhFRRoD3cKHn8ALiomeQw_XBNVHyErN_BH4MWlPsjyebzL3BR1zQBcM0WICni/s1600/anak-mas.jpg

Bisa dibilang jajanan-jajanan ini, meskipun harganya terjangkau, tapi karena sudah susah didapat, jadinya terasa mewah banget kalo bisa menikmatinya lagi. Coba deh, siapa yang nggak kangen buat makan Anak Emas? Siapa yang nggak pengin Main Tazos lagi? Siapa yang nggak suka ngumpulin huruf Y-O-S-A-N lagi?

http://202.67.224.130/pdimage/40/3573240_yosanjumbo.jpg
Hal-hal itu sudah sangat langka, seiring kita bertambah dewasa. Meskipun sekarang kita punya uang untuk membelinya, tapi kadang kita nggak sempet buat hunting jajanan lagi. Sekalinya kamu bisa beli, pasti bakal disayang-sayang. Menikmati mie kering itu sebiji demi sebiji, nggak dikunyah, tapi dihirup. Terasa mewah, bukan?

Yap.. This is the end of the post. Intinya, apapun yang kita punya, akan terasa mewah bagi mereka yang tidak memiliki hal yang serupa. Jadi, jangan lupa untuk selalu bersyukur dan menjaga apapun yang kita punya, berapapun harganya. Jangan sampe kita nyadar betapa berharganya mereka, saat sudah terlanjur nggak ada.

Sampe sini dulu postingannya. niatku cuma ngingetin tentang hal-hal kecil yang kadang kita lupa betapa berharganya, dan baru terasa hal itu berharga kalo kita udah terlanjur kehilangannya. Jadi, semoga dengan postingan ini, kita jadi bisa mensyukuri dan menghargai serta menjaga hal-hal mewah yang udah kita miliki ini.

Kamu.. kamu ada hal mewah tapi murah lagi yang mau dibagi ceritanya? Tulis di kolom komentar yuk~

See u on another topic! Ciao!