Showing posts with label person. Show all posts
Showing posts with label person. Show all posts

Sahabat adalah dirimu yang kedua.

FDM 2016 - D'Ranch, Bandung

Sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk tidak bergaul kecuali dengan orang yang bisa memberinya faedah ( ilmu ) atau dia ( teman tersebut ) bisa mengambil faedah ( ilmu ) darinya. Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW : “Hendaknya engkau menjadi seorang alim atau orang yang belajar. Jangan menjadi jenis yang ketiga, maka engkau akan binasa” ( HR.Ibnu Abdilbar )

Bila ia hendak ikut dalam pertemanan atau diajak berteman dengan seseorang yang menyia-nyiakan umurnya, tidak bisa memberinya faedah ( ilmu ), tidak pula bisa mengambil ilmu darinya, tidak bisa menolongnya untuk urusan yang sedang ditempuhnya ( yakni ilmu ) , maka hendaknya dia dengan lemah lembut memutus jalan pertemanan tersebut dari awal, sebelum hubungan itu menjadi erat. Karena apabila sesuatu telah kokoh, akan sulit menghilangkannya.

Bila dia membutuhkan teman, hendaknya dia memilih yang shalih, beragama , bertakwa , waras , cerdas, banyak kebaikan lagi sedikit keburukan, baik dalam bergaul , dan tidak banyak berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dia mencoba mengingat, teman tersebut bisa menolongnya. Bila dia sedang membutuhkan, temannya ini bisa membantu. Bila dia sedang bosan, temannya ini bisa menyabarkan dirinya.

sumber :

Tulisan di kutip dari Majalah AsySyariah Vol.V/2010 hlm.1 yang merujuk pada Tadzkiratus Sami'wal Mutakallim fi Abadil'Alim wal Muta'alim karya Ibnu Jamaah Al-Kanani

Konsep Menikah



Dari awal jaman kuliah sarjana sampe sekarang, gw sering mikir tentang konsep soal jodoh, soalnya sering mangamati dan dicoba coba sendiri konsep-konsenya dari dulu, and . . . it's work. Sederhananya kalau rejekinya seperti kayak gini : jika melakukan "A" maka biasanya akan selalu jadi "B", Nahhhhh. Kalau soal jodoh, koq ya kalau diperhatiin, kalau melakukan "A" belum tentu akan jadi selalu "B". Dan dari dulu sampe sekarang, ada beberapa pernyataan atau konsep tentang jodoh yang udah sering gw denger :

1. "Jodoh itu di Tangan Tuhan" Terusaada juga counternya: "Kalau gak dijemput atau diambil, yah selamanya akan ditangan Tuhan". Kalau gw pikir, yaaahh semuanya juga ada ditangan Tuhan, gak cuman urusan jodoh. Urusan rejeki, kehidupan, kesulitan dan kemudahan kita, kan ada campur tangan Tuhan juga disitu.

2. "Tiap orang jodohnya udah ditentuin dari sananya, udah ada, cuman belum ketemu aja, ntar juga dateng sendiri kalau sudah waktunya, segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan, kan ada ayat yang menyatakan telah kuciptakan istri-istrimu dari jenismu sendiri" Kalau kata guru gw, banyak yang mensalah artikan ini. Maksudnya berpasang-pasangan itu yahhh, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, proton dan elektron, dan lain sebagainya. Jodoh manusia laki-laki yaaah manusia perempuan. Nggak mungkin kan gw berjodoh sama kaiju :v , Kalau gw pikir juga, untuk yang ini, koq yaaa seakan-akan gak ada hak untuk memilih, padahal rasul juga suda mengeluarkan hadistnya untuk kriteria dalam memilih pasangan, yang wanita itu baik dinikahi dilihat dari 4 hal taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kedudukannya, (qurrota ayun) menyenangkan jika dipandang, Subur (mampu menghasilkan keturunan). kalau memang bukan merupakan pilihan, buat apa keluar hadist yang ini ya?? jadi bingung sendiri dah gw :v

3. "Jodoh itu juga berlaku hukumnya siapa cepat dia dapat" ini gw pernah baca di sebuah buku berbasis islam di salah satu toko buku langganan gw dibandung. gw pikir, ini juga ada benarnya. Logika sederhananya, siapapun yang kepingin dapet yang cantik, yang ganteng, yang mapan dan yang baik-baik. Sudah pasti hal-hal yang seperti itu akan jadi rebutan.

4. Ada juga beberapa temen gw yang bilang konsep jodoh itu begini :
"Jodoh tergantung elunya. Jodoh lu udah ada, tapi gak satu, ada pilihannya. Kalau lu berkelakuan begini, nanti lu bakalan diketemuin sama si "A" "B" "C". Terus kalau lu berkelakuan begitu, nanti bakal diketemuin "D" "E" "F", Nahhhh, ntar lu pilih dah. Jadi ukan udah ditentuin satu begitu" Gw pikir ini ada benarnya juga, mengingat ada kata-kata "sekufu" dalam urusan jodoh.

Kesimpulannya, sampai saat ini setelah ngeliat banyak temen yang permisi nikah sama gw dan menceritakan bagaimana mereka di pertemukan, gw belum bisa menetapkan sebuah pernyataan atau konsep yang benar-benar manjur tentang jodoh. Hahahaha. Kalau yang gw lakukan sekarang yaaa

1. Niat Menikah
2. Berusaha membuka segala kemungkinan dan peluang bertemu jodoh
3. Berdoa
4. dan yang paling penting adalah "Usaha!"

oiya ada satu konsep lagi yang gw ingat, konsep 3B. Apa mungkin konsep 3B ini yang paling benar?

3B itu Berdoa, Berusaha, dan Berkaca :v

Ngga tau ahh, silahkan menarik kesimpulan sendiri-sendiri.

minta es krimnya dong oomm..!!


Banyak gw liat, mungkin juga termasuk diri gw sendiri, (hehehe)… ngeyel atau mengeluh supaya mensegerakan pengkabulan atau hasil do’a atau permintaan pada Tuhan… Padahal Allah udah janji, kalo gak salah begini: “..dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang2 yang sabar…”

Asumsikan kondisinya seperti ini… Dua orang keponakan guwe yang umurnya dibawah 10 tahun lagi dititipin ama ortunya di rumah guwe… Guwe punya stok es krim, dan nantinya mau gw kasi ke mereka.. “Nanti om kasi es krim yaa… tapi ntar tunggu dulu, om lagi nyelesain kerjaan neh….”. Selama waktu penantian, ponakan yang satu bersikap tenang2 aja nunggu, dan yang satu lagi ngeyel, ngeluh, dan minta cepet-cepet tuh eskrim segera dikasi sama omnya…

Kira-kira kalo guwe punya tiga buah eskrim dan mau gue kasi semua, ponakan yang mana yang bakal gue kasi dua buah ??….. op kors, Tentunya yang tenang menunggu donk.. hehe… Meskipun kalo misalnya ini bukan asumsi, tuh eskrim ketiga pasti gw bagi dua sama rata…

Tapi mungkin ini bisa jadi analogi buat pernyataan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar… Pengertian sabar sendiri banyak banget, ada yang mengartikan gigih, ulet, tekun… ada juga yang mengartikannya jadi nerimo, bertahan, dan sikap pasif lainnya… Soal ini terserah masing2 dah mau nganut yang mana…

Kalo gw pribadi, lebih menganut ke definisi sikap aktif seperti tekun berusaha, ulet, nggak tinggal diem, dan sejenisnya… Kalo balik ke analogi ponakan gw tadi, misalnya yang ponakan pertama tidak hanya diam bersabar nungguin gw kelar kerja, tapi malah aktif melakukan hal2 yang bikin hati gw seneng, kayak: mijetin gw, ngambilin guwe minum, bikinin gw kopi, beresin tempat tidur gw, nyuci baju, ngepel, sampe ngorderin gw delivery Kentucky… WAAAWW… udah pasti gw gak cuman ngasi eskrim ketiga, tapi guwe akan beliin dan ngasi dia eskrim keempat, kelima, keenam, kalo bisa malah ama toko-tokonya sekalian… wakakakak…

Naahh.. itu gw yang cuman manusia… gimana kalo kita nyenengin yang nyiptain manusia dalam proses bersabar ???

Yaaaahhh… kurang lebih gitu deh analogi sotoy dari gw… (>_<!)..

ikigai.. ikigai..


Seorang motivator ada yang menulis begini di dalam bukunya: “Saat2 paling menakutkan bagi saya itu adalah saat dimana saya kehilangan fokus..”. Gw pikir ini oke juga.. Jadi kebayang saat bangun tidur, gak tau mau ngapain, di tempat aktivitas bingung mau ngerjain apa, dan ujung2nya kalo nggak produktif terarah, ketidak pastian jadi semakin besar.

Terus supaya mudah fokus gimana ??. Ya yang paling gampang, dengan punya tujuan jangka pendek.. Dan kalo tujuan jangka pendeknya merupakan “bagian2” kecil dari tujuan jangka panjangnya, itu akan lebih bagus..  Di buku lain malah ada yang bilang kalo penetapan tujuan hidup itu adalah masalah hidup dan mati.. Sekaligus juga menunjukkan kemampuan seseorang untuk mendapatkan makna dari pengalamannya selama dia menjalani hidup.

Mungkin ini yang jadi penyebab pas waktu kita masih SD, kalo ditanya cita2nya apa, jawabnya seringkali dokter, pilot, insinyur, dan sejenisnya yang sebenernya kita sama sekali gak paham tentang profesi tersebut.. Karena penetapan tujuan terkait dengan pengalaman hidup.. Yah tau sendiri lah, hehehe.. Anak SD, pengalaman hidupnya seberapa sih ??.. Wong ingus aja masih dielapin.. hihi.

Berbeda dengan mereka yang sudah dewasa, penetapan tujuan hidup bisa dirancang dan di”action”kan… Termasuk juga bisa ditentukan kapan mau dihentikan / pensiun atau masih mau lanjut..  Ada sebuah studi yang dilakukan oleh Brithis Medical Journal pada karyawan perusahaan Shell..  Dibikin jadi dua kelompok: kelompok pertama adalah mereka yang pensiun di usia 55 tahun, dan kelompok kedua adalah mereka yang pensiun di usia 65 tahun.. Hasil studinya, kelompok pertama memiliki resiko kematian 37% lebih tinggi, dan 89% punya kemungkinan meninggal 10 tahun setelah pensiun dibandingkan kelompok kedua.

Ada juga studi lain dimuat dalam jurnal Archives of General Psychiatry yang meneliti 246 orang mengenai Rush Memory & Aging Project.. Para peneliti menemukan: mereka yang tidak punya tujuan jelas dalam hidup, akan mengalami tingkat penurunan mental yang lebih cepat secara signifikan.. Penelitian ini juga menemukan, tidak punya tujuan hidup bisa memperpendek umur dan beresiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer.

Dan Buettner (2008) dalam bukunya menggunakan istilah “The Blue Zones” untuk tempat2 dimana penduduknya bisa hidup lebih dari 100 tahun.. Salah satunya ada di bagian utara Okinawa.. Penduduk sana tidak punya kata “retirement” atau pensiun.. Sebaliknya mereka malah punya kata penting buat hidup mereka yakni: “Ikigai”.. Kalo secara kasar diterjemahin jadi “alasan kenapa anda bangun pagi..”.. Bagi penduduk di sana, mengajar karate di usia 120 tahun, atau belajar mancing di usia 104 adalah hal biasa.. Yang terpenting adalah mereka punya kesadaran yang kuat akan adanya tujuan.. Ikigai adalah bahan bakar untuk mesin diri, sekaligus kompas yang menunjukkan arah dan membuat kita terus maju..

“The more purpose you inject into your life, the brighter your internal spark will burn, the longer you will live, and the more productive you will be while you’re alive..” – Isaiah Hankel, PhD in “Black Hole Focus” (2014).

Ditanya apaa, jawabnya muteeerr-muterrr,

http://www.satuislam.org/wp-content/uploads/2015/10/istri-cerewet-resize.ashx_.jpg

ditanta apa, jawabnya muter - muterrrrr, terus jawabannya jadi ribet sendiri, dan akhirnya jadi ngambang.. Model Raja Dangdut kemaren pas di TV juga pas mau jadi capres kan ditanya: “Anda berpoligami bang haji ??” Jawabannya muter2 dah, padahal kan jawaban yang tepat kan cuman iya, apa nggak.. tapi muter2 entah kemane.. hehehe.. Amit dah.. Ngomong tapi isinya “kosong”, nggak memberikan jawaban…

Apa susahnya seh jawab sederhana aja.. Kalo A ngomong A, kalo B ngomong B.. Jelas perkara.. Kalo gak tau yah ngomong gak tau.. Di kelas atau dikantor juga kalo ada pertanyaan yang emang gw gak tau, yah gw jawab gw gak tau, atau gw belum tau.. Beres perkara..

Secara alami orang2 itu seneng denger yang sederhana.. Misal, kalo gw tanya sama salah satu temen gw, tugasnya udah kelar belom, tinggal jawab “udah”.. Enak tuh.. Tapi ada juga yang “Tinggal di print..” atau “Kemaren ada kecelakaan , terus saya nolongin, terus bla bla bla bla..”.. Terlepas dia ini jujur atau nggak, yang jelas jawabannya jadi ribet.. hehe..

Ada juga model orang2 yang ngomongnya berkesan tinggiii banget.. hehe.. Tapi poinnya gak kena.. Malah berkesan rumit.. Mungkin biar kesannya pinter kali yaa.. Tapi kalo menurut gw sih, orang yang benar2 pintar itu menyederhanakan, sedangkan orang yang sok pinter itu merumitkan.

#sotoylagikangw :v

Argumen Benci Cemen

https://achilq82.files.wordpress.com/2014/05/bodor.jpg

 
Semenjak populernya medsos, memang rasa2nya jadi banyak “hakim” jadi2an.. Men-judge sana sini, menilai atas dasar pertimbangan dan sudut pandangnya sendiri.. Ujung2nya jadi debat kusir nggak berujung.. Kalopun berujung, nggak jarang jadi berujung retaknya hubungan.. Dulu, salah saatu dosen gw pernah berujar: kalo ada orang bicara tanpa data dan referensi, pada akhirnya selalu akan jadi debat kusir.
 
Menurut Littlejohn (2008) dalam “Theories of Human Communication”, individu memang menjadi “pemain kunci” dalam kehidupan sosial.. Sejatinya, individu adalah seorang komunikator yang membawa karakteristik atau ciri kepribadiannya ke dalam cara2nya berkomunikasi.. Dan namanya hidup bermasyarakat, ya pasti ada lah ketemu yang namanya perbedaan antar individu..

Ada teori komunikasi yang cukup dekat untuk bisa menjelaskan “perbedaan berujung hujat2an” di medsos itu.. Namanya teori Argumentativeness yang dilayangkan oleh Dominic Infante dan kawan2nya.. Menurut Infante, memang individu itu punya kecenderungan untuk ingin terlibat dalam obrolan dengan topik yang kontroversial.. Tujuannya: untuk mensupport sudut pandangnya sendiri, dan menyangkal keyakinan / paham yang berbeda.

Infante dalam konsepnya juga menyatakan: kalo sebenernya, sifat argumentatif individu itu bisa meningkatkan pembelajaran, membantu seseorang melihat dari sudut pandang yang lain, meningkatkan kredibilitas, dan mengembangkan kemampuan komunikasi.. Yah bisa banyak diliat sih contohnya, orang2 yang bisa membangun argumen dengan cantik, biasanya skill komunikasinya juga oke.

Cuman yang jadi masalah, nggak semua orang bisa mengakomodir perbedaan argumen dengan baik.. Infante sendiri membagi dua “cluster” untuk teori argumentativeness ini: yakni yang positif (baik), dan yang negatif: agresif secara verbal / memuat permusuhan..
Dan individu2 dengan argumentativeness negatif adalah selalu mereka yang nggak bisa membuat solusi untuk menyikapi perbedaaan.. Akhirnya jadi bersifat agresif / menyerang, menghujat, dan lain sebagainya, bahkan untuk hal2 yang sebetulnya sama sekali nggak penting untuk diperdebatkan.. Bisa liat sendiri, nggak jarang perdebatan2 di medsos adalah perdebatan yang remeh dan nggak konstruktif.

Solusi dari Infante: pahamilah cara2 untuk “how to argue properly”, sehingga argumennya jadi punya sifat aksi “penyeimbang”, dan bukan malah aksi “pembencian”.. Solusi dari Infante sih sebetulnya sudah ada di Al Qur’an dari dulu.. Di Q.S An-Nahl ayat 125, yang menyuruh kita untuk menyeru manusia dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.. Ya gitu deh, kalo Qur’an nggak benar2 dipahami.. Meme2 berbau SARA dan argumen beraoma menyerang, menjelek2an serta kebencian malah banyak sekali bermunculan.. Apakah Alloh seneng dengan yang begitu ?? I don’t think so.

Sadar nggak sadar, cara2 kita berkomunikasi memang dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian kita, dan secara nggak langsung bisa juga menunjukkan siapa kita.. Pak Littlejohn salah seorang pakar komunikasi yang gw tulis di awal postingan pun menuliskan dalam bukunya: “Indeed, your identity depends just as much on what you share with others..”

Niat Tak Terlihat

http://www.motivating.com/wp-content/uploads/sites/462/2014/09/Most-Inspirational-and-motivating-quotes-12.jpg

Ada orang kerja keras pergi pagi pulang malam. Seakan2 waktu 24 jam sehari itu kurang buat dia. Ada orang nyinyir sama dia: “koq mau2nya kerja sampe sebegitunya. Buat apa sih ?? Dunia mulu yang dikejar, kan ntar hasilnya nggak dibawa mati.”

Niat seseorang itu hampir bisa dipastikan selalu nggak keliatan. Padahal tuh orang kerja keras siang malem demi mewujudkan anjuran kalo kerja itu ibadah. Demi menebar manfaat, supaya teraplikasikan bener2 itu kalo manusia yang paling baik itu manusia yang paling banyak manfaatnya. Dan dibalik kerja kerasnya, dia punya prinsip, kalo berhasil sukses hidup di dunia, itu akan lebih mudah membuat akhiratnya jadi ikutan sukses. Karena bisa naek haji, bisa melihara anak yatim, bisa sedekah bantu orang lebih banyak, dsb. Pendek kata, harta emang gak dibawa mati, tapi dampak amalan dari bekerja dan dampak dari hartanya dikemanakan, itu bisa dibawa mati.

Coba perhatikan, siapa yang bisa tau niat dari seseorang ?? Entah itu niat baik ataupun niat buruk, nggak ada yang bisa tau persis apa niat sebenernya dari seseorang melakukan sesuatu. Niat nggak bisa terlihat pada hitamnya jidat seseorang (note: gw pernah ketepu materi ama orang yang jidatnya item), nggak bisa terlihat pada perawakan fisik yang lain, nggak bisa terlihat pada halusnya gaya bicara, nggak bisa terlihat pada perilakunya sehari2 (pernah baca berita sehari2 guru ngaji, eh taunya cabul ), dan lain sebagainya. Poin pentingya, niat itu adanya di dalam hati, dan sayangnya wajah dari hati nggak selalu terpancar keluar dan bisa nggak berbanding lurus dengan wajah muka. Bahkan untuk sebagian orang, sangat mudah untuk memodifikasi mukanya sehingga terlihat sangat berbeda dengan niat yang ada di hatinya.

Jadi gw pikir, buat apa sibuk menerka2 niat dari seseorang dalam melakukan sesuatu ?? Dan kalo baca2 di banyak buku dan kitab suci, anjurannya adalah dahulukan berprasangka baik. Maka hidup akan tentram, nggak dikit2 denger orang lain begini begitu, terus langsung berprasangka buruk. Akhirnya hidup terisi sama hal2 yang sifatnya ngurusin keburukan orang lain. Padahal dirinya sendiri belum tentu sungguh2 diurus.

Yang beberapa bulan lalu rame di medsos kan: mentri ini begini, mentri itu begitu. Padahal pada saat rame ramenya berita itu mereka belum mulai genap satu bulan dua bulan bekerja. Dan yang gak kalah penting, kita bener2 gak tau niat mereka itu sebenernya gimana. Hasil dari niat baik atau buruk itu nanti bisa dilihat setelah niat tersebut terwujud dalam tindakan.  Inget iklan katakan “TIDAK” pada korupsi yang dibikin partai Demokrat ??. Kalo beneran para bintang iklannya itu emang niatnya baik, gak mungkin mereka2 sekarang ada di penjara.

Jadi janganlah terburu2 menarik kesimpulan buruk, karena wujud niat nggak bisa tampil pada fisik seseorang. Biarkan saja para mentri baru itu bekerja. Lihat saja nanti hasilnya, baik atau buruk, dari situ nanti akan terlihat niat yang sebenarnya. Daripada mencerca sana sini, lebih baik instropeksi niat diri, melihat sendiri apa yang ada di dalam hati, apa niat sebenarnya dari tindakan2 diri sendiri.??


Kalo kata : John F. Kennedy:
 
“Problem di dunia ini tidak bisa diselesaikan oleh orang yang berpikir skeptis dan sinis, yang memiliki cakrawala berpikir terbatas pada realitas permukaan semata. Dunia ini selalu kekurangan orang yang mampu merealisasikan apa yang sebenarnya, bukan apa adanya.”

Musuh Kita itu Diri Sendiri, Gak Usah Mengintip Laju Orang Lain

 
Puncak bayangan - Gn.Manglayang


Apa yang kita rasakan hari ini?

Galau gak berketentuan. Males melakukan apapun. Atau bete banget. Malu karena tampang gak bagus-bagus amat. Atau gak percaya diri karena gak bisa ngapa-ngapain. Ahhh, itu cuma perasaan kamu doang kok.

Terus, punya rasa apa lagi?

Benci sama orang lain atas sebab yang gak jelas. Sakit hati karena dibohongin. Atau emang pengen marah aja. Terus, gak sabar pengen cepet sukses kayak orang lain. Iri dan dendam gitu. Atau kecewa, karena yang dipengen gak bisa kesampean. Sekali lagi bilang, ahhhh itu cuma perasaan kamu doang kok.

Ya elahhh, cuma segitu doang perasaannya. Dikit banget sih. Apa lagi ayoo, sebutin aja ...

Katanya, gak semua harapan sesuai kenyataan. Dan gak semua kenyataan sesuai dengan harapan kita. Lagian, namanya juga hidup, penuh dinamika. Manusia cuma ngejalanin, Allah yang mengatur jalannya hidup kita. Kata para sufi, tolong jangan lupa di dunia ini, kita hanya pelakon, sutradaranya Allah.
Punya masalah. Tidak satu pun dari kita yang bisa menghindar dari masalah. Dan gak perlu kabur dari masalah. Apalagi merasa menderita, nestapa. Dan mengumpulkan segala macem perasaan di dalam diri kita. Apalagi rasa yang jelek-jelek. Keluh-kesah. Galaulah. Bete-lah. Ya elahhh .... sempit banget sih dunia kalo model kayak ditu.
Jadi, perasaan kayak apapun hari ini atau esok. Sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Kalo kita merasa punya musuh, itu sangat salah. Ternyata, musuhnya ya kita sendiri. Bukan orang lain, bukan pula keadaan. Kata pejuang, “MELAWAN DIRI SENDIRI”.

Banyak orang yang pengen mengubah DUNIA. Alasannya, karena di dunia ini ada hal-hal yang mereka sukai dan ada pula hal-hal yang tidak disukai. Maka, mereka akan mengubahnya agar dunia mau ikut sesuai keinginan mereka.
Mereka bertarung sekuat tenaga untuk menaklukkan dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya dikerahkan agar dunia berputar sesuai hasratnya. Kita doakan saja, semoga walau itu tak mungkin.
Nyatanya lagi, banyak orang yang pengen mengubah ORANG LAIN di sekitarnya. Alasannya, karena orang-orang di sekitarnya adalah sumber kesenangan dan kebahagiaan. Tetapi juga dianggap bisa mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi.
Maka, semua orang yang tak disukainya menjadi target mereka untuk diubah. Mereka bertarung lagi sekuat tenaga dengan cara apapun. Agar orang-orang di sekitarnya takluk menurut keinginannya. Kita doakan lagi saja, semoga berhasil walau mustahil.
Sayang beribu sayang. Nyata sekali, tidak banyak orang yang rela dan sudi mengubah DIRINYA SENDIRI. Alasannya, dirinya sudah sempurna. Tak perlu ada yang diubah. Merasa sudah pintar, merasa benar, dan merasa yang baik-baik semua. Yukk, kita berdoa lagi, agar benar-benar seperti itu.
Seorang bijak bilang, “Jika memang diri kita sendiri yang jadi sumber dari segala masalah, dari segala perasaan jelek yang kita benamkan sendiri, memang kitalah yang harus mengubahnya".
Apa artinya itu?
Artinya, kita sebagai pribadi harus berani bertarung dengan diri sendiri. Mengubah sifat dan karakter kita sendiri. Melawan ketidaksempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yang tidak disukai dari dirinya sendiri. Itu saja kok.

Asal tahu saja, musuh kita itu diri kita sendiri.

Ternyata musuhnya diri kita sendiri,  maka lawanlah. Berperanglah melawan diri kita sendiri. Bertarunglah untuk mengalahkan rasa takut, malas, angkuh, benci, iri, dendam, galau, bete, gak sabar dan yang lainnya, yang ada di diri kita sendiri. Itu lebih baik.
Jujur saja, tidak ada kemenangan berkah jika lahir dari kemenangan atas orang lain. Kemenangan yang membahagiakan itu tak mungkin diraih lewat niat dan cara yang penuh noda. Kita boleh menang tanpa perlu menyakiti orang lain.

Kita, harus menang atas diri sendiri. Seperti kata banyak orang bijak, “Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari yang lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju lawan-lawannya.
Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah pelari lain akan menyusulnya atau tidak. Tak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan seluruh perhatian untuk memperbaiki rekornya sendiri.”

Jadi sangat jelas, musuh kita itu sesungguhnya diri kita sendiri.
Duh, kok jadi serius gini?
Udah ahh, gak usah lagi menujuk orang lain. Gak usah tengok ke luar. Tengok saja ke dalam, ke diri sendiri. Itu lebih baik. Karena mush kita, ternyata diri sendiri. Maka hancurkan pikiran kotor yang ada. Dan berpeganglan bahwa "Batasan segala kemungkinan hanya dapat didefinisikan ketika kita mampu menembus ketidakmungkinan." 

Oke, jadi musuh kita itu diri kita sendiri. Bukan orang lain.

Yukk berbenah, ngebenahin perasaan diri sendiri dulu. Karena hari ini dan esok, masih ada pertandingan besar. Tanding melawan diri sendiri. Bukan tanding lawan orang lain. Karena kita perlu ingat sama-sama, keinginan untuk mengalahkan orang lain adalah awal dari kekalahan diri sendiri.

~Selamat menikmati anugerah Allah SWT, dan jadilah pemenang untuk diri sendiri !~

Why You Should Be A Morning Person


What is one thing most successful people have in common? They get up extra early and make the most of the morning. Here’s why:
Waking up early gives you time to think before the buzz of the day begins. To put it simply, the early morning is “you time” — a time to lay out your priorities for the day and make progress against them, before others are demanding your time and attention. It puts you firmly in control of each day.
Of course it is awfully hard to get out of bed, but that’s exactly why early risers have the competitive advantage over everyone else. They tackle the day while others hit the snooze button.

  • Virgin Founder Richard Branson wakes up at 5:45am, even when he’s on his private island, and uses the morning for exercise and breakfast before starting work for the day
  • First Lady Michelle Obama starts her day at 4:30am for a workout before her kids wake up
  • Apple CEO Tim Cook gets up at 3:45am every day to catch up on email, hit the gym, and make a Starbucks run before heading to the office
  • Starbucks CEO Howard Schultz gets up at 4:30am to get a workout in (often a bike ride with his wife) — and of course to make some coffee to get his day going
  • Disney CEO Bob Iger rises at 4:30am and uses the early morning to read the paper, exercise, listen to music, catch up on emails, and even watch TV
  • Vogue Editor-In-Chief Anna Wintour wakes at 5:45am to play an hour of tennis before work demands hit
  • GE CEO Jeff Immelt wakes up at 5:30am and gets in a cardio workout while reading the paper and watching CNBC

Did you notice another consistent trend among all of these ultra-successful people? Everyone’s morning ritual includes exercise as a key component.
In addition to the overall health and fitness benefits, studies have shown that moderate-intensity exercise for 20+ minutes produces a mental and emotional boost for the following 12 hours! This means that these business leaders are likely more clear-headed, effective, and productive at work as a direct result of their morning workout. The exercise time also allows them to think and problem-solve without interruption, so they hit the ground running once they get into the office. Morning exercise is an incredibly efficient use of time.

In addition to waking up extra early and exercising, here are a few more morning habits to get your day moving in the right direction:
  • Drink 16 oz. of Water Upon Waking — Rehydrate after your 7–8 hours of sleep
  • Make Your Bed — Making your bed every morning is correlated with better productivity throughout the day
  • Eat a Healthy Breakfast — Fuel your body for the demands of the day (led by energy-packed fruits and vegetables)
  • Drink 1–2 Cups of Coffee — Give yourself a morning boost while reaping the proven health benefits
  • Catch up on the News — Use the quiet time to know what’s happening in the world around you
  • Prioritize Your Day — Establish your top priorities and think about how to tackle them
All of this sets you up for success before your “work day” even begins, whatever form that may take for you. Being a morning person isn’t reserved for just C-level execs. Everyone will benefit from implementing these good habits.
Think it’s not possible for you because you need the extra sleep? The experts would say to get to bed earlier the night before to make the early wake-up call tolerable.
These tips and success stories help motivate me to get out of bed when all I want to do is sleep a bit more, and hopefully they also inspire you to make the morning your secret weapon!