Showing posts with label person. Show all posts
Showing posts with label person. Show all posts

Sahabat adalah dirimu yang kedua.

FDM 2016 - D'Ranch, Bandung

Sepantasnya bagi seorang penuntut ilmu untuk tidak bergaul kecuali dengan orang yang bisa memberinya faedah ( ilmu ) atau dia ( teman tersebut ) bisa mengambil faedah ( ilmu ) darinya. Sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW : “Hendaknya engkau menjadi seorang alim atau orang yang belajar. Jangan menjadi jenis yang ketiga, maka engkau akan binasa” ( HR.Ibnu Abdilbar )

Bila ia hendak ikut dalam pertemanan atau diajak berteman dengan seseorang yang menyia-nyiakan umurnya, tidak bisa memberinya faedah ( ilmu ), tidak pula bisa mengambil ilmu darinya, tidak bisa menolongnya untuk urusan yang sedang ditempuhnya ( yakni ilmu ) , maka hendaknya dia dengan lemah lembut memutus jalan pertemanan tersebut dari awal, sebelum hubungan itu menjadi erat. Karena apabila sesuatu telah kokoh, akan sulit menghilangkannya.

Bila dia membutuhkan teman, hendaknya dia memilih yang shalih, beragama , bertakwa , waras , cerdas, banyak kebaikan lagi sedikit keburukan, baik dalam bergaul , dan tidak banyak berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dia mencoba mengingat, teman tersebut bisa menolongnya. Bila dia sedang membutuhkan, temannya ini bisa membantu. Bila dia sedang bosan, temannya ini bisa menyabarkan dirinya.

sumber :

Tulisan di kutip dari Majalah AsySyariah Vol.V/2010 hlm.1 yang merujuk pada Tadzkiratus Sami'wal Mutakallim fi Abadil'Alim wal Muta'alim karya Ibnu Jamaah Al-Kanani

Konsep Menikah



Dari awal jaman kuliah sarjana sampe sekarang, gw sering mikir tentang konsep soal jodoh, soalnya sering mangamati dan dicoba coba sendiri konsep-konsenya dari dulu, and . . . it's work. Sederhananya kalau rejekinya seperti kayak gini : jika melakukan "A" maka biasanya akan selalu jadi "B", Nahhhhh. Kalau soal jodoh, koq ya kalau diperhatiin, kalau melakukan "A" belum tentu akan jadi selalu "B". Dan dari dulu sampe sekarang, ada beberapa pernyataan atau konsep tentang jodoh yang udah sering gw denger :

1. "Jodoh itu di Tangan Tuhan" Terusaada juga counternya: "Kalau gak dijemput atau diambil, yah selamanya akan ditangan Tuhan". Kalau gw pikir, yaaahh semuanya juga ada ditangan Tuhan, gak cuman urusan jodoh. Urusan rejeki, kehidupan, kesulitan dan kemudahan kita, kan ada campur tangan Tuhan juga disitu.

2. "Tiap orang jodohnya udah ditentuin dari sananya, udah ada, cuman belum ketemu aja, ntar juga dateng sendiri kalau sudah waktunya, segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan, kan ada ayat yang menyatakan telah kuciptakan istri-istrimu dari jenismu sendiri" Kalau kata guru gw, banyak yang mensalah artikan ini. Maksudnya berpasang-pasangan itu yahhh, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, proton dan elektron, dan lain sebagainya. Jodoh manusia laki-laki yaaah manusia perempuan. Nggak mungkin kan gw berjodoh sama kaiju :v , Kalau gw pikir juga, untuk yang ini, koq yaaa seakan-akan gak ada hak untuk memilih, padahal rasul juga suda mengeluarkan hadistnya untuk kriteria dalam memilih pasangan, yang wanita itu baik dinikahi dilihat dari 4 hal taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kedudukannya, (qurrota ayun) menyenangkan jika dipandang, Subur (mampu menghasilkan keturunan). kalau memang bukan merupakan pilihan, buat apa keluar hadist yang ini ya?? jadi bingung sendiri dah gw :v

3. "Jodoh itu juga berlaku hukumnya siapa cepat dia dapat" ini gw pernah baca di sebuah buku berbasis islam di salah satu toko buku langganan gw dibandung. gw pikir, ini juga ada benarnya. Logika sederhananya, siapapun yang kepingin dapet yang cantik, yang ganteng, yang mapan dan yang baik-baik. Sudah pasti hal-hal yang seperti itu akan jadi rebutan.

4. Ada juga beberapa temen gw yang bilang konsep jodoh itu begini :
"Jodoh tergantung elunya. Jodoh lu udah ada, tapi gak satu, ada pilihannya. Kalau lu berkelakuan begini, nanti lu bakalan diketemuin sama si "A" "B" "C". Terus kalau lu berkelakuan begitu, nanti bakal diketemuin "D" "E" "F", Nahhhh, ntar lu pilih dah. Jadi ukan udah ditentuin satu begitu" Gw pikir ini ada benarnya juga, mengingat ada kata-kata "sekufu" dalam urusan jodoh.

Kesimpulannya, sampai saat ini setelah ngeliat banyak temen yang permisi nikah sama gw dan menceritakan bagaimana mereka di pertemukan, gw belum bisa menetapkan sebuah pernyataan atau konsep yang benar-benar manjur tentang jodoh. Hahahaha. Kalau yang gw lakukan sekarang yaaa

1. Niat Menikah
2. Berusaha membuka segala kemungkinan dan peluang bertemu jodoh
3. Berdoa
4. dan yang paling penting adalah "Usaha!"

oiya ada satu konsep lagi yang gw ingat, konsep 3B. Apa mungkin konsep 3B ini yang paling benar?

3B itu Berdoa, Berusaha, dan Berkaca :v

Ngga tau ahh, silahkan menarik kesimpulan sendiri-sendiri.

minta es krimnya dong oomm..!!


Banyak gw liat, mungkin juga termasuk diri gw sendiri, (hehehe)… ngeyel atau mengeluh supaya mensegerakan pengkabulan atau hasil do’a atau permintaan pada Tuhan… Padahal Allah udah janji, kalo gak salah begini: “..dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang2 yang sabar…”

Asumsikan kondisinya seperti ini… Dua orang keponakan guwe yang umurnya dibawah 10 tahun lagi dititipin ama ortunya di rumah guwe… Guwe punya stok es krim, dan nantinya mau gw kasi ke mereka.. “Nanti om kasi es krim yaa… tapi ntar tunggu dulu, om lagi nyelesain kerjaan neh….”. Selama waktu penantian, ponakan yang satu bersikap tenang2 aja nunggu, dan yang satu lagi ngeyel, ngeluh, dan minta cepet-cepet tuh eskrim segera dikasi sama omnya…

Kira-kira kalo guwe punya tiga buah eskrim dan mau gue kasi semua, ponakan yang mana yang bakal gue kasi dua buah ??….. op kors, Tentunya yang tenang menunggu donk.. hehe… Meskipun kalo misalnya ini bukan asumsi, tuh eskrim ketiga pasti gw bagi dua sama rata…

Tapi mungkin ini bisa jadi analogi buat pernyataan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar… Pengertian sabar sendiri banyak banget, ada yang mengartikan gigih, ulet, tekun… ada juga yang mengartikannya jadi nerimo, bertahan, dan sikap pasif lainnya… Soal ini terserah masing2 dah mau nganut yang mana…

Kalo gw pribadi, lebih menganut ke definisi sikap aktif seperti tekun berusaha, ulet, nggak tinggal diem, dan sejenisnya… Kalo balik ke analogi ponakan gw tadi, misalnya yang ponakan pertama tidak hanya diam bersabar nungguin gw kelar kerja, tapi malah aktif melakukan hal2 yang bikin hati gw seneng, kayak: mijetin gw, ngambilin guwe minum, bikinin gw kopi, beresin tempat tidur gw, nyuci baju, ngepel, sampe ngorderin gw delivery Kentucky… WAAAWW… udah pasti gw gak cuman ngasi eskrim ketiga, tapi guwe akan beliin dan ngasi dia eskrim keempat, kelima, keenam, kalo bisa malah ama toko-tokonya sekalian… wakakakak…

Naahh.. itu gw yang cuman manusia… gimana kalo kita nyenengin yang nyiptain manusia dalam proses bersabar ???

Yaaaahhh… kurang lebih gitu deh analogi sotoy dari gw… (>_<!)..

ikigai.. ikigai..


Seorang motivator ada yang menulis begini di dalam bukunya: “Saat2 paling menakutkan bagi saya itu adalah saat dimana saya kehilangan fokus..”. Gw pikir ini oke juga.. Jadi kebayang saat bangun tidur, gak tau mau ngapain, di tempat aktivitas bingung mau ngerjain apa, dan ujung2nya kalo nggak produktif terarah, ketidak pastian jadi semakin besar.

Terus supaya mudah fokus gimana ??. Ya yang paling gampang, dengan punya tujuan jangka pendek.. Dan kalo tujuan jangka pendeknya merupakan “bagian2” kecil dari tujuan jangka panjangnya, itu akan lebih bagus..  Di buku lain malah ada yang bilang kalo penetapan tujuan hidup itu adalah masalah hidup dan mati.. Sekaligus juga menunjukkan kemampuan seseorang untuk mendapatkan makna dari pengalamannya selama dia menjalani hidup.

Mungkin ini yang jadi penyebab pas waktu kita masih SD, kalo ditanya cita2nya apa, jawabnya seringkali dokter, pilot, insinyur, dan sejenisnya yang sebenernya kita sama sekali gak paham tentang profesi tersebut.. Karena penetapan tujuan terkait dengan pengalaman hidup.. Yah tau sendiri lah, hehehe.. Anak SD, pengalaman hidupnya seberapa sih ??.. Wong ingus aja masih dielapin.. hihi.

Berbeda dengan mereka yang sudah dewasa, penetapan tujuan hidup bisa dirancang dan di”action”kan… Termasuk juga bisa ditentukan kapan mau dihentikan / pensiun atau masih mau lanjut..  Ada sebuah studi yang dilakukan oleh Brithis Medical Journal pada karyawan perusahaan Shell..  Dibikin jadi dua kelompok: kelompok pertama adalah mereka yang pensiun di usia 55 tahun, dan kelompok kedua adalah mereka yang pensiun di usia 65 tahun.. Hasil studinya, kelompok pertama memiliki resiko kematian 37% lebih tinggi, dan 89% punya kemungkinan meninggal 10 tahun setelah pensiun dibandingkan kelompok kedua.

Ada juga studi lain dimuat dalam jurnal Archives of General Psychiatry yang meneliti 246 orang mengenai Rush Memory & Aging Project.. Para peneliti menemukan: mereka yang tidak punya tujuan jelas dalam hidup, akan mengalami tingkat penurunan mental yang lebih cepat secara signifikan.. Penelitian ini juga menemukan, tidak punya tujuan hidup bisa memperpendek umur dan beresiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer.

Dan Buettner (2008) dalam bukunya menggunakan istilah “The Blue Zones” untuk tempat2 dimana penduduknya bisa hidup lebih dari 100 tahun.. Salah satunya ada di bagian utara Okinawa.. Penduduk sana tidak punya kata “retirement” atau pensiun.. Sebaliknya mereka malah punya kata penting buat hidup mereka yakni: “Ikigai”.. Kalo secara kasar diterjemahin jadi “alasan kenapa anda bangun pagi..”.. Bagi penduduk di sana, mengajar karate di usia 120 tahun, atau belajar mancing di usia 104 adalah hal biasa.. Yang terpenting adalah mereka punya kesadaran yang kuat akan adanya tujuan.. Ikigai adalah bahan bakar untuk mesin diri, sekaligus kompas yang menunjukkan arah dan membuat kita terus maju..

“The more purpose you inject into your life, the brighter your internal spark will burn, the longer you will live, and the more productive you will be while you’re alive..” Isaiah Hankel, PhD in “Black Hole Focus” (2014).

Ditanya apaa, jawabnya muteeerr-muterrr,

http://www.satuislam.org/wp-content/uploads/2015/10/istri-cerewet-resize.ashx_.jpg

ditanta apa, jawabnya muter - muterrrrr, terus jawabannya jadi ribet sendiri, dan akhirnya jadi ngambang.. Model Raja Dangdut kemaren pas di TV juga pas mau jadi capres kan ditanya: “Anda berpoligami bang haji ??” Jawabannya muter2 dah, padahal kan jawaban yang tepat kan cuman iya, apa nggak.. tapi muter2 entah kemane.. hehehe.. Amit dah.. Ngomong tapi isinya “kosong”, nggak memberikan jawaban…

Apa susahnya seh jawab sederhana aja.. Kalo A ngomong A, kalo B ngomong B.. Jelas perkara.. Kalo gak tau yah ngomong gak tau.. Di kelas atau dikantor juga kalo ada pertanyaan yang emang gw gak tau, yah gw jawab gw gak tau, atau gw belum tau.. Beres perkara..

Secara alami orang2 itu seneng denger yang sederhana.. Misal, kalo gw tanya sama salah satu temen gw, tugasnya udah kelar belom, tinggal jawab “udah”.. Enak tuh.. Tapi ada juga yang “Tinggal di print..” atau “Kemaren ada kecelakaan , terus saya nolongin, terus bla bla bla bla..”.. Terlepas dia ini jujur atau nggak, yang jelas jawabannya jadi ribet.. hehe..

Ada juga model orang2 yang ngomongnya berkesan tinggiii banget.. hehe.. Tapi poinnya gak kena.. Malah berkesan rumit.. Mungkin biar kesannya pinter kali yaa.. Tapi kalo menurut gw sih, orang yang benar2 pintar itu menyederhanakan, sedangkan orang yang sok pinter itu merumitkan.

#sotoylagikangw :v

Argumen Benci Cemen

https://achilq82.files.wordpress.com/2014/05/bodor.jpg

 
Semenjak populernya medsos, memang rasa2nya jadi banyak “hakim” jadi2an.. Men-judge sana sini, menilai atas dasar pertimbangan dan sudut pandangnya sendiri.. Ujung2nya jadi debat kusir nggak berujung.. Kalopun berujung, nggak jarang jadi berujung retaknya hubungan.. Dulu, salah saatu dosen gw pernah berujar: kalo ada orang bicara tanpa data dan referensi, pada akhirnya selalu akan jadi debat kusir.
 
Menurut Littlejohn (2008) dalam “Theories of Human Communication”, individu memang menjadi “pemain kunci” dalam kehidupan sosial.. Sejatinya, individu adalah seorang komunikator yang membawa karakteristik atau ciri kepribadiannya ke dalam cara2nya berkomunikasi.. Dan namanya hidup bermasyarakat, ya pasti ada lah ketemu yang namanya perbedaan antar individu..

Ada teori komunikasi yang cukup dekat untuk bisa menjelaskan “perbedaan berujung hujat2an” di medsos itu.. Namanya teori Argumentativeness yang dilayangkan oleh Dominic Infante dan kawan2nya.. Menurut Infante, memang individu itu punya kecenderungan untuk ingin terlibat dalam obrolan dengan topik yang kontroversial.. Tujuannya: untuk mensupport sudut pandangnya sendiri, dan menyangkal keyakinan / paham yang berbeda.

Infante dalam konsepnya juga menyatakan: kalo sebenernya, sifat argumentatif individu itu bisa meningkatkan pembelajaran, membantu seseorang melihat dari sudut pandang yang lain, meningkatkan kredibilitas, dan mengembangkan kemampuan komunikasi.. Yah bisa banyak diliat sih contohnya, orang2 yang bisa membangun argumen dengan cantik, biasanya skill komunikasinya juga oke.

Cuman yang jadi masalah, nggak semua orang bisa mengakomodir perbedaan argumen dengan baik.. Infante sendiri membagi dua “cluster” untuk teori argumentativeness ini: yakni yang positif (baik), dan yang negatif: agresif secara verbal / memuat permusuhan..
Dan individu2 dengan argumentativeness negatif adalah selalu mereka yang nggak bisa membuat solusi untuk menyikapi perbedaaan.. Akhirnya jadi bersifat agresif / menyerang, menghujat, dan lain sebagainya, bahkan untuk hal2 yang sebetulnya sama sekali nggak penting untuk diperdebatkan.. Bisa liat sendiri, nggak jarang perdebatan2 di medsos adalah perdebatan yang remeh dan nggak konstruktif.

Solusi dari Infante: pahamilah cara2 untuk “how to argue properly”, sehingga argumennya jadi punya sifat aksi “penyeimbang”, dan bukan malah aksi “pembencian”.. Solusi dari Infante sih sebetulnya sudah ada di Al Qur’an dari dulu.. Di Q.S An-Nahl ayat 125, yang menyuruh kita untuk menyeru manusia dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.. Ya gitu deh, kalo Qur’an nggak benar2 dipahami.. Meme2 berbau SARA dan argumen beraoma menyerang, menjelek2an serta kebencian malah banyak sekali bermunculan.. Apakah Alloh seneng dengan yang begitu ?? I don’t think so.

Sadar nggak sadar, cara2 kita berkomunikasi memang dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian kita, dan secara nggak langsung bisa juga menunjukkan siapa kita.. Pak Littlejohn salah seorang pakar komunikasi yang gw tulis di awal postingan pun menuliskan dalam bukunya: “Indeed, your identity depends just as much on what you share with others..”